#1 OZ Trip : WESTERN AUSTRALIA

EXPLORE AUSTRALIA adalah satu dari sekian banyak mimpi yang ingin dicapai selama kuliah master ini. Awalnya saat masih di Indonesia selalu optimis, mimpi jalan-jalan keliling Australia itu sepertinya mudah nan indah untuk menjadi nyata. Aku punya teman di hampir semua state (kecuali Darwin) dan itu sangat membantu, at least buat tour guide dan lumayan menghemat biaya akomodasi. Namun, sesampainya disini mulai kasih diskon buat mimpi sendiri, kayanya gak perlu ke sini deh dan lain sebagainya karena banyak alasan, terutama alasan keuangan hahaha (maklum anak beasiswa negara). But, who knows kalo in the end of my study I can go around Australia (AMIIN).
Western Australia dengan ibu kotanya Perth, menjadi pilihan pertama dan solo trip pertamaku selama di Australia. Yang dimaksud solo trip disini sesungguhnya bukan yang kemana-kemana sendiri sih, cuma pulang pergi dari Adelaide aja yang sendiri.

 
KENAPA WESTERN AUSTRALIA?

Kalo ditanya kenapa sih alasan utamanya adalah tiket promo. Tiket promo memang racun bagi anak hobi jalan namun duit pas-pasan. Sebenarnya promo waktu ada buat hampir seluruh state di Australia sih, tapi menurutku Adelaide-Perth itu bukan rute favorit sejuta manusia jadi akan jarang, beda dengan rute Adelaide-Melb atau Adelaide-Sydney yang kayanya bakal sering. Jadi, bermodal nekat belilah tiket ke Perth bahkan sejak bulan awal Februari untuk keberangkatan pertengahan Mei.
Alasan kedua adalah teman di Perth. Zidnie, teman yang tinggal di Perth adalah teman yang paling dekat diantara semuanya. Enaklah kalo mau ngerepotin karena gak perlu sungkan. Ditambah, Zidnie sudah tinggal lebih lama dibandingkan aku atau teman-temanku di state lain. Jadi, pasti Zidnie akan lebih pro dan tahu tentang state/kotanya.Selain itu, alasan lainnya adalah letak geografis. Setelah perjalanan ke Perth sih baru sadar kalo mungkin Western Australia jaraknya paling jauh dibandingkan state lain. Kaya dari selatan ke barat, ibaratnya kalau di Jakarta sih dari Lenteng Agung ke Kebun Jeruk. Langsung bersyukur menempatkan state terjauh di trip pertama sih hahaha.

 
BERAPA LAMA DAN KEMANA AJA DI WESTERN AUSTRALIA?

Sebelum membeli tiket, aku udah terlebih dahulu berdiskusi sama Zidnie tentang kira-kira butuh waktu berapa lama di sana dan availability jadwal Zidnie yang padat juga disesuaikan dengan waktu liburku. Awalnya mau awal Mei, karena kuliah terakhirku di bulan Mei tapi entah kenapa aku sok ide buat ganti ke pertengahan (dan bersyukur karena awal Mei masih exam ternyata). Menurut Zidnie, berapa lama itu tergantung kemana ajanya. Kalo mau di city aja tanpa jalan jauh yang road trip berjam-jam, 3-4 hari aja cukup. Berhubung not in a good mood of road trip, jadi aku memutuskan buat 3-4 hari aja juga biar gak kelamaan ngerepotin dan mengganggu stabilitas ekonomi. Meskipun semua orang di Perth bilang “kenapa cepet banget, harusnya seminggu”. Well, ini balik lagi ke tujuannya mau kemana aja. Semakin banyak tempat yang dikunjungi ya semakin banyak pula waktu yang dibutuhkan. Kalo cuma mau sekedar tau aja sih ya 3-4 hari cukuplah. Banyak website keren yang menyediakan informasi tentang objek-objek wisata di Perth atau bisa juga sesampai di airport ambil semacam buku panduan wisata yang sudah lengkap dengan petanya. Really appreciate of that!
Perjalananku dimulai dari Jumat siang dari Adelaide karena dari rumahku ke airport butuh waktu sekitar sejam dengan dua kali ganti bus. Jadwal flightnya sekitar 15.40 waktu Adelaide, jadi masih sempat buat keliling airport dulu. Flight Adelaide-Flight lumayan lama sih sekitar 3 jam 50 menit. Berasa kaya semalaman karena ngerasa udah bangun-tidur-bangun-tidur lagi-bangun lagi belum juga ada tanda-tanda mau nyampe. Playlist lagu udah muter entah berapa kali dan lupa banget gak bawa buku jadi super boring 2017 selama flight (berhubung naik pesawat murah tanpa hiburan yang memadai hahaha). Meskipun pesawat murah tapi nyaman dan lumayan muluslah buat take off sama landingnya (compare with low fare airlines Indo wkwkw).
Sekitar jam 18.30 waktu Perth akhirnya sampai juga. Menunggu beberapa menit Zidnie yang masih di bus buat jemput. Perth dan Adelaide punya 2 jam 30 menit perbedaan waktunya dengan Adelaide lebih cepat. Waktu Perth udah kaya Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA) yang selisih sejam sama WIB.
WA Trip dimulai dengan perjalanan dari airport ke unit Zidnie yang ada di dalam kampus University of Western Australia (UWA). Perjalanannya sekitar sejam setengah dengan dua kali ganti bus juga sih kaya dari rumah ke Adelaide airport. Setelah nyampe unit ZIdnie, naruh barang dan beramah tamah dengan Mbak Esti (roomate Zidnie) kami yang kelaparan ini langsung jalan ke rumah gengnya Zidnie buat bareng-bareng makan di daerah Northbrige. Karena hari itu adalah Jumat malam, hari dimana Zidnie and geng emang punya jadwal makan bareng di luar. Sepanjang jalan, Zidnie menjelaskan beberapa site dan tentang kota Perth, namun karena malam jadi gak banyak yang bisa dilihat hehe.

IMG_2909

Makan malam bersama Zidnie’s geng : Daniel, Mbak Sita, Mas Abi, Mas Bondar, Mas Fajri, Aku dan Zidnie (dari kiri ke kanan)

Keesokan harinya, dari pagi kami sudah bersiap buat road trip ke Balingup. Hari ini giliran bergabung sama geng fotografinya Zidnie. Untuk sampai ke Balingup, kami harus menempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan mobil. Tujuan kami adalah Golden Valley Tree Park, Balingup. Sebelumnya aku sempat menemukan foto tempat ini di IG dan memberikan ke Zidnie sebagai tempat yang pengen dikunjungi. Lucky me kebetulan adek ipar salah satu member di klub fotografi itu akan mengadakan pre wedding photo di sana. Jadi, kegiatan kami seharian adalah photo session dan menikmati road trip. Setelah lelah seharian foto, dalam perjalanan pulang kami mencari tempat makan namun ternyata sudah banyak tutup (karena weekend banyak yang tutup lebih awal). Instead of kembali ke city, kami memilih untuk makan masakan Indonesia di daerah Mandurah (daerah tepi pantai gitu). Semacam another road trip karena dari Balingup ke Mandurah butuh waktu sekitar sejam. Makan malam dan perjalanan pulang mengakhiri hari kedua di Perth dengan segudang foto-foto keren.

IMG_3168

Balingup Photo Session : Autumn Edition

Hari ke tiga dihabiskan dengan quality time with Zidnie. Tujuannya adalah Fremantle dan city of perth. Perjalanan ke Fremantle tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan ke Balingup kemarin. Fremantle semacam pelabuhan di WA yang terkenal. For me, Fremantle or they called Freo is my favorite place in WA. As simlpe as feel likes home since semacam campuran Adelaide, Bandung tapi versi ada pelabuhan yang bikin makin keren. Gaya vintage kota ini juga suka banget. Kami keliling-keliling Freo, ke Round House yang mirip kaya city of wall di York. Kami juga lihat penjara yang dulu dipake buat menjarain suku asli Aborijin (mayan serem sih ini). Sebenarnya Zidnie ngajak ke museum, tapi berhubung aku penakut dan waktu yang tidak memadai, alhasil malah ke Fremantle market namun sayangnya tutup karena Minggu. Dari Fremantle kami lanjut ke city of Perth dengan kereta. Melihat perkiraan cuaca hari itu akan hujan maka kami benar-banar harus in time agar tidak kehujanan di jalan karena banyak tempat yang ingin kami kunjungi.

IMG_2987

Fremantle Market

Sampai di city of Perth, kami berkeliling dan memanjakan mata tapi menyiksa dompet (re:belanja). London court juga spot lucu di barisan pertokoan yang seru buat dikunjungi karena berasa di UK banget hahaha. Puas berkeliling city, kami lanjut ke Kings Park untuk melihat city landscape yang indah.Ditengah-tengah menikmati indahnya Perth di taman yang nyaman, hujan turun membuat kami harus berteduh dan menunda perjalanan selanjutnya ke Elizabeth Quark dan menyebrangi swan river by feri. Kerennya Perth adalah kota ini dipisahkan oleh sungai di tengahnya.Good thingsnya adalah mereka memanfaatkannya dengan sangat bagus dengan menjadikannya destinasi wisata. Mungkin di masa depan di Jakarta akan ada wista menyebarangi sungai ciliwung same like what Perth did. Malam itu ditutup dengan mennyebrangi swan river dengan feri dan makan malam di Northbrige (lagi).

IMG_3070

Pemandangan Perth malam hari dari kapal Feri

Hari terakhir lebih banyak dihabiskan keliling kampus ZIdnie, Uniberity of Western Australia. UWA sebagai salah satu Group of EIght, punya kampus yang super duber gede dan ijo. Kalau di Inondeisa, lebih mirip UGM namun masih dalam satu kompleks. Hari itu juga kami berjalan ke Matilda Bay, kata ZIdnie itu adalah tempat pernikahannya Julia Peres. Selain itu, juga berfoto di Blue House, semacam tempat wajib nan iconic dari Perth. Itu tempat yang pertama aku minta ke Zidnie buat dikunjungi. Lanjut ke city lagi untuk beli oleh-oleh pastry paling enak se Perth dengan rating zomato 4,6 dari 5. Apple Studle Corica emang luar biasa. Kata temenku pas cobain sih katanya pengin nangis saking enaknya. Well, Corica udah ada sejak 1957 jauh sebelum makanan serupa hits di Indonesia.

IMG_3159

Blue House

Sedih rasanya pas harus pulang. Karena harus kembali ke Adelaide, balik kuliah,perpus dan sleepless juga sedih berpisah sama Perth. Mungkin semacam kita dari berlibur ke Bandung terus balik ke Jakarta lagi gitu sih.Terlebih lagi seru-serunya main sama Zidnie setelah entah berapa lama kita ga jalan bareng. Zidnie adalah temen yang bisa dibilang deket saat SD, rumah kami juga deketan dan dulu suka sepedaan bareng buat berangkat sekolah hahaha.Berasa reuni SD di kehidupan orang dewasa bedanya.
Overall, Perth is really nice place to visit. Gak rugi kok main ke Perth yang jauh lebih rame dan modern dari Adelaide.Sehari di Perth udah berasa keliling UK karena UK banget ini kota.Pelajaran berharga lainnya adalah sadar bahwa Australia itu super gede yang buat pindah dari satu state ke state lain itu effortnya gede banget. Gak kaya europe trip atau UK trip yang bisa by bus atau train yang cuma sejam dua jam. Tapi gak nyesel dan can’t wait to another OZ TRIP!!!
Special thanks to Zidnie for this trip as best tour guide ever

IMG_2915

Foto bareng Zidnie di Balingup

Tentang PK

Berbicara soal PK atau persiapan keberangkatan pasti gak asing lagi buat awardee LPDP atau teman-teman dan keluarga awardee.Setiap awardee LPDP pasti punya sejuta cerita tentang PK mereka masing-masing. Mulai dari baper setengah mati (karena moto PK adalah mempertemukan untuk dipisahkan) atau sebel karena tugas yang ribet dan sebagainya, terutama buat yang sambil kerja, tugas-tugas PK beneran menyita waktu dan fikiran.

Aku sendiri harus berpindah 2 kali gerbong PK. Alasan kenapa harus berpindah sebanyak itu karena waktu itu aku mengajukan deffer perkuliahan dan PK awalku untuk yang urgent memulai perkuliahan (baru tahu saat meminta pindah terakhir dan itu diizinkan pindah karena menjadi pewakilan). Perpindahan kedua karena waktu yang terlalu mepet dengan mulainya perkuliahan (engga sih sebenarnya tapi anaknya gak bisa jadi deadliner jadi merasa mepet). Jadi, awalnya aku dari PK-74 (yang bahkan baru seminggu) pindah ke PK-85 dan terakhir di PK-78.

dsc_0111-977

PK-78 setelah sesi PIC PK Menyapa

Pertanyaan yang sering kali muncul kemudian adalah “PK ngapain aja sih? Kok kaya ribet gitu idup lo”. Well, kalo dari pihak penyelenggaranya, PK itu intinya adalah main-main. Main-main sama LPDP (sebagai sponsor kami semua), main-main dengan sesama awaree dan main-main sama tokoh-tokoh nasional. Itu adalah ideal dan tujuan utama PK dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

The fact is aku udah lupa sama semua materi saat PK. HAHAHAHA. Mengingat PK-78 dilaksanakan mulai 18 September 2016 lalu jadi maklumlah udah lupa (just my excuse). Yang tersisa dalam ingatan adalah bagaimana cara kita bertahan buat gak ngantuk selama sesi-sesi pembicara. Kami melakukan segala cara seperti saling cubit, makan permen yang aneh banget rasanya (lupa nama merk permennya karena cuma dikasih, tapi pokoknya yang biasa dipake orang kalau habis berhenti merokok), makein fresh care ke mata bahkan balsem yang super panas kaya geliga juga digunakan. Sumpah kalo inget how we survive ngakak sih.  Walau sebenarnya juga pembicara yang ngisi juga gak sewow dan gak semenarik itu (mungkin karena punya ekspektasi tinggi). Kadang aku merasa bersyukur jadi perwakilan yang datang ke PK sebelumnya dan dapet pemateri yang sesuai ekspektasiku. Mungkin ini juga jadi alasan aku punya ekspektasi tinggi tentang pemateri di PK ku sendiri. Jadi, point buat main-main dengan tokoh nasional menurutku pribadi kurang yah. Materi juga gak nyampe karena setelah beberapa bulan juga udah lupa semua. Jangan generalisir ya karena bisa aja hanya aku yang merasa begitu.
Pembicara dari LPDP sih lumayan karena ini menyangkut kehidupan selama perkuliahan dan ya mayanlah inget dikit-dikit (actually we can easily google that and read the manual book or just ask CSO HAHA). Main-main dengan LPDP jadi boleh lah.

Terakhir kalo tentang main-main sama sesama awardee, mungkin paling kerasa adalah saat pra-pk. Karena udah gak kerja dan kurang kerjaan, jadi aku memutuskan untuk jadi perwakilan PK-78. Tugasnya apa? Kurang lebih jadi perantara antara tim PK dibawah kepemimpinan Pak Kamil dan anggota PK itu sendiri. Jadi perwakilan ada senang dan sedihnya sih. Senangnya karena bisa kenal lebih banyak orang bahkan lintas angkatan PK, bisa dapet berbagai materi PK dari PK sebelumnya (so happy to see Butet Manurung) dan lumayanlah mengisi waktu luang dengan bermanfaat buat upgrade leadership skill (idealnya). Sedihnya karena banyak hal yang kurang sesuai ekspektasi, mayan berasa kaya ospek dan hal-hal tidak mengenakan yang sepertinya tidak perlu dibahas disini. Kesedihan lainnya adalah free time yang terbatas, sering kali dibilang PHP karena bilang bisa main bersama teman tapi ternyata tiba-tiba dibatalkan sesaat setelah ada panggilan ‘bapak’.

Pra-PK membawaku mengenal lebih jauh cewe-cewe srikandi PK-78, Geng Akasia 1. Nama Akasia 1 sebenarnya adalah nama kamar kami saat PK. Kami sering kali menghabiskan waktu di gazebo Wisma Hijau dari pagi hingga mungkin pagi lagi. Tak jarang kami juga menginap di ‘apartement‘ atau kosanku. Aku, Reni, Mumu dan Mei-Mei sudah seperti layaknya saudara. Mulai dari ngakak guling-guling, kekacauan pagi hari selama PK, teriakan Mumu dan Mei-Mei tiap pagi, sampai mewek sudah kami lalui bersama. Sukses selalu Geng Akasiaku sayang 🙂

photo828650567976987266

GENG AKASIA 1, Mbak Murti-aku-Reni-Kak Meike (dari kiri ke kanan)

Geng lainnya adalah Geng Supporting System. Kalo ini adalah geng cowo-cowo kece yang selalu support para srikandi. Banyak hal yang butuh back up dari para lelaki-lelaki ini. Seperti mas Hari, composer keren yang luar biasa baik dan selalu ada waktu buat sekedar jadi teman curhat dan berkeluh kesah. Atau Fadhil yang meskipun gak ada di Depok tapi selalu siap 24 jam buat bantu dari Bandung. Mulai dari minta kerjain tugas CV, cari sekolah ke ujung depok dan sampai sekarang supporting system. Sebelas dua belas sama Radifa yang juga sering bantu tapi bocah ini suka kasih bonus cengan, apalagi kalo urusan berhitung dan kemampuan excelku yang kacau. Ada juga Aufa yang sungguh aktif, mulai dari jadi ketua kelas, ngurusin per-danus-an bareng Radifa, PIC Bedah Buku dengan segala dramanya , supplier wifi andromax dan yang hampir tiap pagi ngetokin kamar Akasia 1 (pasti ada-ada aja urusannya). Mas Triawan juga bagian dari geng ini, mantan ketua PK-78 ini selalu hadir menyelesaikan masalah-masalah dan lumayan jadi teman ngobrol di kelompok saat PK. Selain itu, Widi yang juga jadi bagian dari perwakilan, perannya dalam membantu juga gak perlu diragukan dengan motornya yang bikin mudah kalo tiba-tiba harus mencari sesuatu dan sebagai orang yang selalu kena bully dan omelan cewe-cewe ini. Sebenarnya gak cuma mereka sih, hampir semua pengurus PK-78 seperti Om Berux (orang yang menjebakku masuk ke PK-78), Teh Tika, Teh Ica, Om Rahmat (yang bikin By You For You selalu penuh kegembiraan), Erlina (sekretaris kesayangan), Mashudi, Mas Dian, Titi (PIC Perkap super) dan semuanya sih sebenarnya. Tapi orang-orang yang disebut namanya yang emang kemudian jadi teman baik sampai sekarang.

photo828650567976987097

 Kami saat PK! Mas Triawan-Fadhil-Kak Meike-Widi (atas kiri ke kanan) Mbak Murti-Reni-aku (bawah kiri ke kanan.

photo828650567976987099

versi ada Mas Dian (Tulus KW), Aufa (belakang aku), Radifa (kanan aku)

photo828650567976986992

Niat nonton berakhir di KFC ngejar deadline. Radifa-Anggita-Mas Hari-Reni-Mbak Murti (kiri ke kanan)

Selama PK sih, yang aku sesalkan dengan saat sekarang ini adalah aku gak banyak main dengan banyak orang-orang baru di PKku. Well, harus urus ini itu, dipanggil sana sini dan segala macemnya bikin aku hanya main sama mereka lagi mereka lagi. Bahkan sama teman sekelompok pun juga gak banyak yang jadi deket kemudian, apalagi yang gak sekelompok wkwkw 😦

img_2237

Kelompok Giwangkara

Di kelompokku, kelompok Giwangkara, orang-orangnya super pendiem dan kalem dengan yel-yel yang agak garing, awalnya aku kurang nyaman tapi mau gamau harus bisa beradaptasi. Untungnya ada Mas Triawan, Mas Dian dan Patrick (Prasetyo) yang udah kenal lebih dulu karena kami banyak berinteraksi saat pra pk dan Rahmawati yang baru tau ternyata dia temen seSMP dan SMA wkwkkw, sisanya orang baru (beberapa namanya sering disebut karena cukup ‘terkenal’). Sampai sekarang cuma beberapa aja yang masih ngobrol dan bahkan menjadi lebih dekat setelah PK (karena grupnya udah hilang ditelan jaman).

Sebut saja Ruthi, ketua kelompok Giwangkara (awalnya) yang selalu bersamaku saat PK. Well, kami nyambung karena kami sama-sama ‘gila’ dan gak sependiem yang lain. Walau lupa gimana awalnya tapi thank God ada Ruthi sih wkwkwk. Mbak yang satu ini keren luar biasa dahsyatnya,dia seorangg penari yang udah keliling dunia gitu. Bonding kami adalah saat harus ngurusin ibu menyusui sampe lelah dan bingung harus berbuat apa menghadapinya. Juga saat tiba-tiba ada hp yang nyala dan bunyi alarm atau apalah itu saat sesi dan kami panik gimana cara matiinnya lalu memilih heboh biar gak kedengeran. Dan yang pasti Ruthi partner paling oke dalam ngitungin sticker smile (sebagai absensi). Pokoknya, selama PK aku gak akan merasa seseru ini tanpa Ruthi sih. Walau setelah PK kami berwacana buat berlibur bersama tapi wacana ini hanyalah wacana semata. Tunggu aku pulang dan mari realisasikan ya sis!

img_1385

Bersama Ruthi entah lagi sesi apa (jangan salah fokus sama yang tidur disamping)

Selanjutnya, temen-temen sekelompok yang jadi lebih sering ngobrol habis PK dibandingkan pas PK (sebelum PK apalagi). Bingung juga kenapa jadi lebih deket setelah PK dan ini menjadi sebuah penyesalan kenapa sih kemarin saat PK gak bisa lebih banyak kenal sama orang-orang. Kaya sama Mas Infar, baru di hari-hari terakhir ngobrol  sama dia (engga deng pas di base-camp sempet ngobrol) terus jadi banyak ngobrol setelah Jogja Trip. Aku jadi ngerti kerjaan PNS yang katanya (gak) gabut dan karena kerja di bea cukai jadi dikasih tau juga car kerjanya gimana dan yang suka direpotin kalo ada quiz ekonomi terus gak ngerti walau dia layaknya birokrat Indonesia. Selain Mas Infar ada juga si Ucup (pasti tau lah nama aslinya siapa). Sebagai bocah yang masuk ke PK-78 di detik-detik terakhir bahkan pas nomor peserta udah keluar dan yang membuat dia sekelompok sama aku, dia mayan membantu dan gak gabut-gabut amat di PK. Meskipun pendiemnya gak ngerti lagi (sampe aku suka bingung sendiri ), tapi dia mayan seru ternyata. Selama PK suka banget ngebully dia ya karena kalo dibully pun juga diem aja paling balesnya dicubit doang atau sekedar dicurhatin pagi-pagi pas IS “cup gue masih ngantuk banget deh” dan cuma ditanggapin beberapa kata. Dia juga suka berbagi permen beserta tips cara makan permen yang agak menjijikkan. Karena habis PK dia langsung cabut dan memulai perkuliahan di sebuah kota entah berantah di UK itu, dia sudah berpengalaman buat how to start new life in abroad, suka kasih tips yang mayanlah membantu buat persiapan sebelum berangkat. Mungkin karena itu sih jadi masih dan malah jadi lebih banyak ngobrol.

852110136_96460_5972612146396233837

Bareng Ruthi (lagi) dan Ucup. Entah juga lagi ketawain apa.

 

Kemudian, suka muncul pertanyaan yang suka aku pertanyakan baik buat diriku pribadi atau ke orang-orang yang masih deket sama aku, “Kalau sekolah kita udah selesai dan kita udah kembali ke Indonesia, mungkin gak kita ketemu lagi?”

Again, sustainability gak cuma jadi sebuah issue di berbagai NGO saja, tapi juga dalam sebuah group sebenarnya. Beberapa teman menjawab, “iyalah pasti ketemu lagi. Nanti kan ada welcoming alumni“. Buat beberapa tipe pertemanan aku yakin kami akan bertemu dan berusaha menyempatkan buat bertemu tapi entah untuk yang lainnya. Mungkin ini juga PR dan sebuah kritik untuk PK, untuk apa mempertemukan orang – orang dengan perpisahan sebagai ujungnya?

South Australia, 28 February 2017

Anggita

Yang akhrinya menyelesaikan utang tulisan tentang PK, meskipun lebih banyak ceritain orang karena sejujurnya udah lupa apa aja yang dilakukan waktu PK. Maaf ya 🙂

 

 

 

Sebulan Lalu

Tepat sebulan lalu, aku memulai perjalanan merantau (lagi). Berbeda dengan perantauan sebelumnya, kali ini aku harus lintas benua, melalui penerbangan yang panjang karena harus transit beberapa kali (meskipun jarak tempuh sebenarnya tidak terlalu lama) dan sebatang kara (semacam mendapatkan ‘me time‘ dan jadi banyak ngobrol dengan diri sendiri sepanjang perjalanan.

Sempat lumayan was-was dan cemas dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Mulai dari kalo pesawat delay, ketinggalan pesawat selanjutnya, proses imigrasi dengan kabar beredar kalo imigrasi Australi yang rempong, bagasi ilang dan pikiran aneh-aneh lainnya. Tapi segala puji bagi Allah yang melancarkan perjalananku dari Solo hingga Adelaide.

Terima kasih buat yang sempetin luangin waktu buat hanya sekedar dadah-dadah, pelukan hangat, mengucap selamat tinggal dan doa baik lainnya. Gak cuma yang secara langsung datang tapi semua chat dan apapun.

Ini nih orang-orang yang mengantarkan kepergianku meninggalkan Solo tercinta.

img_1420

Yang dari jam 1 bahkan aku belum mandi mereka udah berkabar udah di Bandara. Terima kasih Mbak Dinda yang jadi orang paling sabar nanggepin ke-telo-anku, mentor meraih lpdp dan ga bosen dengerin curhatanku dari mulai mbak dinda mau berangkat ke UK sampe pulang. Tak lupa, Mbak Tanti yang setia menjadi teman sarapan selama di Solo dan jadi teman diskusi yang menyenangkan nan baik hati. Good Luck for both of you, Mbak-Mbakku sayang 🙂

img_1426

Ceritanya mau nunjukin ranselku dan mita yang kembar. Terima kasih partner jajan kesayangku, Mita yang selalu pulang-pulang kehujanan kalau kita bersama baik di Solo atau Jogja. Juga pak bos CP yang menyempatkan dadah di bandara. Sukses selalu.

img_1444

Ini bukan geng main. Tapi kakak yang selalu bareng sejak bayi sampe akhirnya dia menikah dengan lelaki di sampingku. Ga sengaja kembar kerudungnya hahaha. Yang pas mau masuk sempet berkaca-kaca matanya. Juga kakak ipar yang luar biasa baik hati dan penasehat yang baik nan cerdas parah (belajar interview pas h-1 wawancara lpdp sama dia). sama dua konyil (mereka gak kembar, kakak beradik) yang mungkin ke gatau ngapain ke bandara, taunya cuma mau nonton pesawat. Sehat-sehat selalu kalian semua 🙂

Solo-Jakarta sempat delay dan bersyukur karenanya. Soalnya masih pengen bersama mereka dan harus bongkar koper karena kelebihan bagasi yang keterlaluan (ga bisa dapet bagasi 40kg buat pelajar karena ga dipesenin yang pelajar) terus kata papa “kalo tak bayarin yang Solo-Melb,kamu nanti gak bisa bayar bagasi yang ke Adelaide dek”, soalnya bayar kelebihan bagasinya udah dapet 1 tiket deh itu. Akhirnya bersyukur banget minta pindah jadwalnya karena kalau enggak pasti bakal telat kalau delay dan mungkin ga sempet nemuin temen-temen tercinta yang bahkan sejak aku berangkat dari Solo mereka udah jalan ke Bandara.

img_1461

Yang dateng paling duluan, paling heboh dan kasih hadiah yang paling mengerti (karena aku gak bawa jaket buat di pesawat dan mereka kasih kado jaket). Luv PSDMku 🙂

img_1498

Sista-sista perantau sejak jaman masih mahasiswa baru. Bahkan Rifa (baju merah) adalah temen SD, Cika (baju coklat) adalah temen deket sejak SMA. Kami juga berjuang bareng sejak SMA buat masuk UI dengan segala macam drama, menghadapi kerasnya Depok dan kehidupan kuliah sampai pindah ke Jakarta meniti karier. Mereka yang lebih drama karena mereka paling tau gimana aku akhirnya bisa berangkat. Cika udah kasih hadiah perpisahan sejak aku berniat kuliah lagi (meskipun itu 2 tahun lalu) tapi mungkin itu doa yang menjadi nyata. Terima kasih tiada terkira buat kalian yang paling tercinta.Sukses dan sehat selalu, sista-sistaku.

img_1525

Geng Indomie Telor Kornet!!! Walaupun cuma 3 dari seluruh geng pertemanan dari kerumunan baik, Indonesia Mengajar. Ini gaya wajib kalo di IM, anw. Inget banget pas offering mau masuk IM sama kak Jaim (jaket Ijo), dia bilang “ini kan kerja sosial, siapa tahu nanti dilancarin terus bisa dapet beasiswanya” HAHAHA. Kak Fai, bocah petualang temen sedivisi APE  yang selalu bersemangat dan perhatian ke semua orang. Kak Uca, abang yang baik hati dan gentle waktu aku mau mati pas di curuk. Terima kasih banyak untuk popmie yang di sini ga ada dan tas FKPD biar selalu ingat untuk #IkutBekerja memajukan pendidikan Indonesia dan #TerusBekerja dimanapun berada. Semoga pendidikan Indonesia lebih baik ya karena kerja keras kalian di IM!

img_1528

Save the best for the last! Ini orang-orang yang bikin rame dan meleleh di detik-detik terakhir. Dibawain nasi padang (karena selama ini Ipul (jaket coklat) utang nasi padang) dan dikasih sketsanya pak bos baralintar (baju biru) legenda-legenda FISIP. Mereka jadi saksi sih gimana bisa lulus di semester 7 walau ambil 100 sks di takor atas, sampai akhirnya lanjut kuliah lagi, apalagi Tara nan lovely  (baju biru) yang gak pernah bosen dengerkan curhatku. Terima kasih ya udah sempetin main ke Solo terus beneran jadi orang-orang yang melepas kepergianku. Kalian pasti bakal jadi legenda ga cuma di kampus tapi buat negeri ini 😉

img_1516

BEST SUPPORTER EVER!  Pakdhe (pake peci) dan budhe (kerudung putih) udah jadi gantinya papa mama selama merantau di Jakarta. Budhe bahkan jauh lebih perhatian daripada mama, yang paling heboh kalo bilang lagi sakit atau yang selalu nanyain kalo tiap weekend gak ke Condet juga yang sesimple nyiapin bekal teh anget dan roti pas harus berangkat kerja subuh-subuh. Pakdhe juga yang siap sedia anter subuh-subuh ke kantor atau ke bandara, jemput ke kosan dan selalu siaga dari jaman maba sampe kerja. Jelas, Papa (baju ijo) dan Mama (kerudung hitam) yang doa dan restunya bisa membuat aku ada di sini sekarang. Sempet gak dikasih izin buat lanjut kuliah lagi di luar (dan membuat jalan seterjal batu karang) tapi kemudian jadi orang-orang paling supportif. Beberapa hari sebelum berangkat sempet nanya ke mama, mama nangis gak kalo aku berangkat dan mama jawab “ngapain nangis, paling kamu juga sering pulang”. Kalo kata papa “sekarang papa lebih tentram ninggal kamu dek, gak kaya pas awal kuliah dulu”. Alasanku buat semangat kuliah lagi juga karena papa pernah berpesan kalo anak-anak papa minimal harus kaya papa sekolahnya. Walaupun gagal merayu papa buat ikut anter ke Adelaide tapi semoga diberi rezeki dan kesehatan buat ke Adelaide nanti saat udah ada Master di belakang namaku. Bersyukur punya mereka semua. Sehat selalu Papa, Mama, Budhe dan Pakdhe 🙂

 

Sabtu, 14 Januari lalu, aku udah berjanji pada diriku sendiri buat gak meneteskan air mata sedikit pun. Gamau nangis karena ini pilihan yang beneran aku tunggu-tunggu. Sampai salim, peluk cium dan masuk imigrasi semuanya aman. Pas duduk di pesawat, mulai berasa semuanya nyata dan aku akan pergi jauh dari orang-orang yang aku sayang. Jakarta-Melbourne lebih banyak aku habiskan dengan tidur (tentu saja karena penerbangannya malam juga), baca buku dan dengerin lagu. Mau sok-sokan nonton Rudi Habibie biar tertular semangat nasionalisme tapi panjang banget keburu turun. Dalam perjalanan itu, aku sempet sholat subuh dan orang sebelah aku (bule) nampak bingung, mungkin dalam hati dia bilang “ngapain ini bocah”. Menurut aku penerbangannya biasa aja sih, mungkin karena kebanyakan tidur jadi tau-tau udah subuh terus tau-tau udah nyampe Melbourne deh.

Setelah nyampe, langsung hidupin hp dan sambungin ke wifi bandara. Berkabar ke semua orang yang menanti kabar terutama papa. Sempet ditanya papa “kok ngos-ngosan dek?” jawabannya adalah karena jalannya jauh dan harus ngejar ke penerbangan selanjutnya ke Adelaide. Harus ambil koper yang beratnya luar biasa, melewati imigrasi dan antriannya yang bikin was-was (bukan lagi karena bawaan sih) bakal keburu atau engga dan harus jalan lagi ke terminal domestik yang ternyata ga jauh hahaha. Pas Check In bahkan masih keburu buat penerbangan sebelumnya, tapi rasanya pengen bersih-bersih badan dan bernafas menikmati Melbourne dulu. Aku sempet cuci muka, gosok gigi dan sedikit memperbaiki penampilan. Karena udah lapar dan lemah rasanya, pengen makan tapi mikir lagi mana makanan yang halal. Akhirnya, yaudah makan donat dan ngeteh anget yang rasanya kaya balikin nyawa dan berasa idup lagi haha. Gak sempet ambil foto karena semuanya beneran dikejar waktu (sebenarnya bisa sih tapi karena penampilannya busuk dan lelah jadi males).

Penerbangan Melbourne-Adelaide enak banget. Aku suka banget Qantas, jauh lebih bagus dari Garuda sih karena alus banget parah. Tapi aku yang harusnya dapet snack jadinya ga dapet karena aku tidur. Tapi sebenarnya kembali lagi makanannya entah halal atau engga sih (tetep) hahaha. Melbourne-Adelaide hampir sama kaya Solo-Jakarta sih lama penerbangannya. Pas nyampe Adelaide rasanya kaya pengen sujud syukur dan guling-guling ÄKHIRNYA AKU NYAMPE SINI JUGA. Ngeliat iklan-iklannya Uni Adelaide dan banyak hal yang selama ini cuma aku liat di web atau instagram. Di Australi, bagasi secepat kilat gak kaya di Indonesia yang kita harus nunggu lama baru dateng. Kayanya malah bagasinya yang nungguin kita. Seperti tadi pas nyampe Melbourne, aku juga langsung sambungin ke wifi bandara dan kabarin kalau udah sampai dengan selamat di Adelaide. Aku mencari orang yang akan jemput dan kontak Ukhfi (pemilik rumah temporary yang aku tinggali). setelah menunggu beberapa saat (lumayan bisa buat bernafas dulu), Mas Romy dari PPIA Uni Adelaide datang menjemput dan mengantarkan ke rumah Ukhfi. Lagi-lagi, gak sempet foto karena alasan yang sama dengan sebelumnya. Tapi aku suka bandara Adelaide sih yang luarnya dan sempet mikir yailah sama bandara Solo bagusan bandara Solo tapi ternyata cakep.

Kalo ditanya first impression tentang Adelaide, buat aku kaya Bali versi lebih sepi. Mungkin karena aku dateng pas summer jadi berasa kaya di pantai-pantai ala-ala Bali. Sebelum tinggal di tempat yang sekarang, aku tinggal sementara di rumah Ukhfi dan Mbak Desi di suburb yang namanya Goodwood.

img_1588

Urut dari Kiri ke Kanan, Ukhfi, Mbak Lisnan, Mbak Dessi, Aku. Ukhfi, gadis minang asal payakumbuh yang lagi ambil Education, Mbak Lisnan asalnya Buton sejurusan sama Ukhfi, Education dan Mbak Desi asli Lombok yang ambil Linguistic. Rumah di Goodwood berasa banget Indonesianya karena dari berbagai daerah. Kami semua juga penerima beasiswa yang sama, LPDP (bahkan Mbak Desi dan Mbak Lisnan berada di PK yang sama). Ini kita lagi foto di Port Elliot pas diajak main sama Judith (temennya Ukhfi) ke daerah Middleton.

Aku bersyukur banget dengan semua pilihanku. Mulai dari minta ganti jam penerbangan beberapa kali (mungkin orang travel kesel juga), milih tinggal sementara di rumah Ukhfi sampe nemu rumah tempat sekarang aku tinggal. Seneng bangat tinggal di rumah Goodwood karena mempermudah adaptasi tinggal di sini, diajarin idup di Adelaide, bisa jalan-jalan ke Middleton, sampai yang terakhir pas kita ikutan parade di Australia Day bareng Bu Joyce (orang Indonesia yang tinggal dan jadi permanent resident di Adelaide). Thanks girls.

Kampus juga sejauh ini menyenangkan. Ketakutan buat ga related sama mata kuliah yang berbau bisnis tidak terasa sejauh ini. Aku sangat terbantu dengan pengalaman kerja selama ini meskipun gak ada background ekonomi bisnis. Tapi, aku tetap harus kerja keras buat dapet High Distinction atau setidaknya Distinction. Satu hal yang aku suka adalah aku sekarang punya textbook bergambar dan berwarna yang asli layaknya anak FE hahaha. Semoga kampus akan selalu menyenangkan.

Beberapa hari lalu, temen serumah yang dari Filiphina nanya “udah homesick belum?”, aku sih jawab belum, baru juga sebulan.Ada di sebuah teori komunikasi (lupa namanya) ini masih di tahapan honeymoon yang belum ada konflik dan segala macamnya. Temen juga bilang “ya tunggu aja sampai tugas-tugas menumpuk dan perpus menjadi rumah, pasti kangen rumah”. Meskipun ga mungkin di tahapan ini terus, tapi semoga aku bisa mengatasi homesick dengan baik dan merubahnya jadi semangat.

Banyak banget yang ingin diceritain dan masih punya banyak utang tulisan. Oh iya salah satu resolusi 2017ku adalah rajin ngeblog. jadi semoga bisa selalu berbagi cerita yah 🙂

Adelaide, 14 February 2017

23.01

Anggita

(jujur pas nulis caption foto-foto dibandara diiringi dengan tetesan air mata. terharu dan rindu)

Just Do The Best Then

Pertanyaan “terus sekarang kerjaan lo apaan?” atau sekedar “sibuk apa sekarang?” mungkin menjadi pertanyaan paling sering dilontarkan beberapa bulan terakhir. Semenjak memutuskan resign pertengahan tahun ini dan ternyata rencana memulai perkuliahan di bulan September belum bisa terlaksana (karena ketidaksiapan diri sendiri dan faktor pendukung lainnya), hari-hari dihabiskan dengan bersenang-senang. Bersenang-senang sebelum memulai kehidupan baru yang bahkan sulit bisa dibayangkan hingga saat ini. Bersenang-senang dengan menghabiskan banyak waktu dengan papa mama yang mungkin selama beberapa tahun terakhir menjadi sebuah kemewahan dan juga akan menjadi sebuah hal yang sangat amat dirindukan.

Bersenang-senang lainnya adalah bersenang-senang mempersiapkan perkuliahan. Persiapan memulai perkuliahan juga ternyata lebih simple dari yang dibayangkan dan mungkin akan menjadi drama kalau dikerjakan ditengah deadline atau berbagai kesibukan dunia perkantoran dan menyadari bahwa aku bukanlah multitasking person. Meskipun sebenarnya persiapan yang krusial hanyalah mengurus kontrak dengan LPDP dan visa.

Untuk perkuliahan kali ini, alhamdulillah tidak lagi bergantung pada Papa’s Fondation dan ditanggung oleh negara dengan beasiswa sejuta umat, LPDP. Sebagai sponsor utama, LPDP menyaratkan seluruh awardee untuk mengikuti persiapan keberangkatan (PK) sebelum mendapatkan semua hak. Persiapan Keberangkatan menjadi pintu utama mengurus berbagai hal terkait dengan beasiswa ini. Bagiku, PK tidak hanya tentang beasiswa saja tapi lebih dari itu (semoga ada waktu dan kemauan keras untuk membuat sebuah postingan khusus tentang PK). Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, setelah PK seluruh awardee (terutama untuk tujuan Luar Negeri) bisa mengajukan kontrak dan letter of guarantee (LoG) dengan mengirimkan email ke LPDP. Kontrak sebenarnya semacam legal letter perjanjian awardee dan pihak LPDP. Dalam kontrak tersebut, terdapat nomer induk awardee yang kemudian digunakan untuk mengakses website kunci segala pencairan dana dan monitoring evaluasi awardee. Sedangkan LoG lebih digunakan untuk pihak ketiga seperti universitas atau kedutaan besar untuk pengurusan visa pelajar. Berdasarkan pengalaman, semua berjalan lancar tanpa masalah berarti. Pelayanan LPDP cukup gercep untuk sekelas lembaga negara di bawah kementrian dengan beribu awardee. Selain itu, tiket keberangkatan juga bisa diatur LPDP sesuai dengan ketentuan. Awardee tinggal memberikan tanggal, tujuan dan maskapai untuk keberangkatan, menunggu beberapa hari dan tiket sudah ditangan. Namun, lagi-lagi semuanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Awalnya aku memilih dengan menggunakan maskapai asing (karena cerita dari bapak lurah dengan kemudahan yang ada dan cerita teman yang juga menggunakan maskapai negera tetangga) tapi ditolak dan digantikan dengan menggunakan maskapai kebanggaan Indonesia meskipun agak ribet tapi namanya juga dibayarin jadi yasudahlah ya terima saja. Untuk pengurusan tiket, karena mungkin LPDP bekerja sama dengan pihak ketiga membuat mayan slow response sih. Aku selalu menyarankan (dan disarankan teman) untuk tidak mepet dalam mempersiapkan segalanya yang berurusan dengan LPDP baik dari tiket maupun berbagai pencairan dana.

Selain berurusan dengan pihak sponsor, untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri harus mengurus visa pelajar juga berbagai urusan dengan universitas tujuan. Sebenarnya mengurus visa (terutama visa Australia yang sudah online) hanya mengisi form, melakukan verifikasi di IDP (karena anaknya mager jadi dibantu agent pendidikan), melakukan pembayaran (siapkan kartu kredit dan AUD 550++),  tes kesehatan berupa tes urin dan xray di rumah sakit yang ditunjuk kedutaan kemudian tunggu email dari kedutaan bahwa visa sudah granted. Cukup kaget karena sehari setelah tes kesehatan yang cukup drama, aku sudah mendapatkan email bahwa visa granted, yeay. Pesan khusus untuk perempuan-perempuan yang akan tes kesehatan pastikan tidak sedang menstruasi atau akan menstruasi, tapi gapapa sih kalau terlanjur ada teknologi ‘urin tengah’.

Urusan dengan universitas paling yang berkaitan dengan aktivasi akun, email dan keperluan akademik lainnya. Yang paling penting juga enrollment. Hmmm, sebenarnya salah satu alasan untuk resign terlalu dini juga adalah ingin melakukan persiapan akademis (re:belajar) karena aku cukup berani mengambil keputusan mengambil jurusan yang sebenarnya gak linier tapi masih nyambung dan disambung-sambungin dengan pengalaman kerja sebagai marketing officer. Tapi, membaca buku-buku bisnis dan ekonomi serta latihan academic writing hanyalah wacana hahaha. Baru beberapa bulan terakhir sih teman memberikan e-book ekonomi yang jadi semacam buku dongeng sebelum tidur.

Setelah visa granted, tiket issued, enrollment selesai, beberapa teman bertanya tentang kesiapan dalam hati aku pun juga mempertanyakan hal yang sama “yakin siap?”. Siap gak siap ya harus siap, ini pilihan dan sesuatu yang sudah aku kejar dan perjuangkan dalam beberapa tahun terakhir. Tidak ada waktu lagi untuk menunda dan mempertanyakan kesiapan yang ada tinggal just do the best. Bismillah 🙂

Solo, H-16 keberangkatan

 

Refleksi

Memulai refleksi dengan apa yang telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, terkhusus di umur 23 yang banyak orang bilang sebagai the worst year of a person’s life dan benar (at least for me personally).

Umur 23 menjadi setahun penuh ujian, halangan yang merintang dan mungkin bisa jadi turning point untuk kehidupan selanjutnya. Belajar dari kegagalan, belajar untuk tidak berhenti dan menyerah juga belajar untuk lebih banyak mengenal diri sendiri, lebih banyak melihat, mendengar dan merasakan kondisi sekitar. Seperti yang akhir-akhir ini banyak dipelajari dari Indonesia Mengajar, satu hal yang sering kali diulang-ulang oleh Anies Baswedan, it’s not about you, it’s about them.

Mungkin sudah 23 tahun dibuang sia-sia dengan mengejar mimpi-mimpi pribadi dan menyenangkan diri tanpa banyak memikirkan orang lain atau malah sebaliknya, terlalu memikirkan orang lain namun lupa mengurus diri sendiri. Sepertinya yang terjadi di tahun terakhir kuliah, terlalu sibuk mengurus ini itu dan lupa menata masa depan. Pelajaran lainnya yang bisa diambil mungkin juga tentang keseimbangan dalam hidup.

Mengutip pernyataan teman, “kita seperti bayi dalam masuk dalam kehidupan orang dewasa”. Itu juga benar. Sering kali masih merasa menjadi anak kecil dengan berjuta excuse atau berpikir ala anak remaja alay. Tuntutan dan tekanan dunia orang dewasa ini semoga segera mendewasakan dan membuat menjadi orang dewasa yang sesungguhnya, bukan lagi bayi atau anak remaja.

Satu hal yang begitu amat  di tengah seluruh badai usia 23 ini adalah tentang janji Allah. Selain tentang ridho Allah yang begitu bergantung dengan keridhoan orang tua juga tentang janji Allah bahwa akan ada kemudahan selepas kesulitan. Hanya butuh usaha, doa dan kesabaran lebih untuk itu semua.

Tentang ridho orang tua, nyata sudah buktinya. Papa yang tidak mengizinkan untuk melanjutkan kuliah ke Belanda dengan alasan negeri penjajah. Buktinya, jalan menuju Belanda begitu terjal dan seakan tak berujung, sampai akhirnya tersadar bahwa ini bukan jalan yang tepat. Berbeda dengan Adelaide dimana mama menjadi orang paling suportif sedunia bahwa anaknya akan berkuliah di sana dan benar, jalan menuju Adelaide seakan dimudahkan. Benar juga bahwa Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kapasitas diri hambanya. Namun ujian itulah yang akan menambah kapasitas diri hambanya.
Ke depannya, tantangan hidup akan lebih menantang. Targetan tahun ini juga menunggu untuk dicapai bahkan untuk dilebihi. Semua tak akan lebih mudah tanpa kerja keras dan kerja cerdas.

 

Selamat datang umur dewasa, semoga lebih menyenangkan 😀

[ULASAN] Mineral Botanica Lippie Series

IMG-20160214-WA0019.jpg

Semua Lipstik Lokal. Mineral Botanica yang ujung kanan sama kiri aja. Foto  : @ranchabel

Setelah sebelumnya saya berbagi tentang alasan kenapa kita harus bangga menggunakan (setidaknya memperhitungkan) produk-produk kosmetik dalam negeri,kali ini dan seterusnya saya akan membagikan berbagai ulasan tentang produk kosmetik lokal yang saya gunakan sehari-hari. Tidak hanya yang saya gunakan saja, namun juga teman dan orang-orang di sekitar saya. OH IYA, dalam ulasan saya, jangan terlalu berharap lebih dengan bahasa ala-ala beauty blogger yang canggih, atau berharap gambar yang dahsyat nan memukau.  Sesungguhnya saya akan menceritakan dan mengulas produk dengan bahasa saya dan semoga mudah dipahami kemudian membuat kalian semua mau memakai atau ya paling tidak memiliki niatan untuk memakai hehehe. Ulasan yang saya buat dalam blog saya ini juga hanya akan mengenai produk-produk kosmetik asli 100% buatan Indonesia saja ya 🙂

Kalau berbicara tentang salah satu merek kosmetik dalam negeri, mungkin tak banyak orang yang tahu merek Mineral Botanica. Saat pertama kali mendengar merek ini, yang ada dalam bayangan saya adalah produk-produk jebolan anak-anak IPB dan mall kebanggaan orang Bogor (Botani Square)dan sepertinya sih bukan hehehe. Dibandingkan dengan produk kosmetik dalam negeri seperti mustika ratu atau sari ayu, mineral botanica ini masih tergolong baru. Sehingga, produk-produk yang ditawarkan juga belum begitu lengkap dan beberapa produk masih dalam tahap pengembangan. Namun, kemunculan mineral botanica ini sepertinya di saat yang cukup tepat ketika masyarakat Indonesia terlebih gadis-gadis yang mulai ‘heboh’ memakai kosmetik.

Saya lupa tepatnya bagaimana saya untuk pertama kalinya menemukan merek ini karena saya selalu mengasosiasikan produk ini dengan sama dengan produk-produk buatan anak IPB yang dijual di Botani Square seperti yang saya katakan sebelumnya. Sebenarnya saya sudah tertarik sejak lama, terlebih waktu itu Zahratul Jannah (salah satu selebgram hijab cantik yang saya suka) menjadi duta untuk produk Mineral Botanica dan mempromosikannya di Instagram miliknya (walaupun dia juga promoin body shop). Selain itu make up yang digunakan oleh pembawa acara seperti Zazkia Adya Meca atau Zizi Shihab dalam Berita Islami Masa Kini di Trans TV juga menggunakan Mineral Botanica, meskipun tidak terlihat oke karena gaya berpakaiannya yang menurut saya aneh.

Kembali pada Mineral Botanica, akhirnya salah satu teman saya memberikan rekomendasi positif dan memberi tahu tempat dijualnya produk ini. Awalnya saya hanya membeli Soft Matte Lip Cream nomor 10 dan mama saya membeli Moisturizing Lipstick yang warna orange tapi lupa nomor berapa. Dengan harga 51,900 untuk SMLC dan 43.900 untuk Moisturizing Lipsticknya, semuanya terbayar dengan sangat memuaskan. Pertama, kalau dilihat dari packing produk ini sih tidak akan ada yang menyadari produk tersebut produk kosmetik lokal dan dengan harga yang dibawah 100.000. Mengapa? Tampilannya terlihat sangat ‘mahal’ dengan warna hitam matte dengan logo merek berwarna hijau yang mengesankan lebih ‘botanica’ atau alami gitu maksudnya. Kalau beli yang Vivid Matte Lipstik, packagingnya dengan kardus pembungkus yang dalamnya ada gambar bunga-bunga, jadi semakin indah dan semakin ‘botanica’.

IMG-20160214-WA0012

Model(@Ranchabel) menggunakan Mineral Botanica SMLC nomor 1 ‘Crimson Heart’

IMG-20160301-WA0000-1

Model(@TaraSwasti) menggunakan Moneral Botanica Moisturizing Lipstick

Setelah dipakai, untuk saya yang membeli SMLC dengan kondisi bibir saya yang super rewel dan sangat gampang kering saat menggunakan Matte Lipstick, sama sekali tidak kering dan masih terasa nyaman digunakan (biasanya kalau menggunakan SMLC merek tersohor itu bibir saya bisa sampai pecah dan berdarah). Mengejutkannya, saat memakai lipstik ini baik SMLC, Vivid Matte dan juga Moisturizing, ada aroma buah-buah yang segar seperti jeruk. Jadi, kalau ada beberapa merek lipstik  mahal yang baunya kaya cat dan beberapa konsumen terganggu, buat merek ini baunya sangat menyenangkan dan menambah kepercayaan diri saat berdandan (SERIOUSLY). Untuk daya tahan lipstik ini sih bisa dibilang lumayan baik ya terutama untuk SMLC dan Vivid Matte. Kalau seharian lagi puasa sih, dari pagi sampai buka puasa aman sekali tanpa perlu tacap. Kalau buat kondangan cantik mah juga masih aman, ga perlu khawatir habis makan dan belum foto tapi lipstiknya udah luntur, ga akan terjadi karena pengalaman pribadi. Gak jaminan masih oke punya kalau dipakai makan yang super heboh dengan porsi kuli. Walaupun tahan lama, tapi jangan risau dengan kandungan yang ada di dalam kosmetik ini. Dijamin bukan kosmetik abal dan ala-ala karena udah ada izin resmi dari BPOM dan juga Mineral Botanica sudah paraben free lho. Jadi gak perlu khawatir tentang kesehatan kalau menggunakan produk kebanggaan Indonesia ini.

Mica 20160127_214831

11 Pilihan Warna Mineral Botanica SMLC

Seperti kata orang-orang kalau tidak ada yang sempurna di muka bumi ini, pun dengan mineral botanica ini. Karena masih ada beberapa kekurangan dari produk ini. Seperti yang saya bilang di awal, kalau merek ini masih terbilang baru, jadi kalau mau pilih warna masih terbatas. Untuk SMLC saja hanya ada 11 warna, ditambah stock barang yang sedikit. Sehingga sering kali susah untuk mendapatkan barang ini terutama pada lipstik dengan warna-warna favorit. Jujur, saya pernah sampai bolak balik 3x untuk mendapatkan lipstik yang saya cari. Untuk produknya sendiri, baik untuk SMLC atau Vivid Matte, butuh waktu agar bibir terlihat kalau kita menggunakan matte lipstick. Keringnya gak secepat kilat setelah kita pakai lipstik ini. Jadi ya gak bisa terburu-buru untuk mendapatkan hasil maksimal dari produk ini. Untuk Moisturizingnya, hmmmm mungkin karena tujuan dari produk ini yang lebih ke melembutkan bibir dan memang glossy, jadi ya lipstik ini cepat sekali  hilangnya dan membuat harus sering memakai lagi sih.Tapi untuk mencapai tujuan melembutkan sih tetap juara.

Secara keseluruhan, produk Lipstik dari Mineral Botanica ini saya beri nilai 8 dari 10. Untuk produk lokal yang masih baru, merek ini memiliki peluang besar untuk menjadi pilihan utama perempuan Indonesia, bahkan dengan kualitasnya apabila terus dikembangkan bisa saja tidak hanya di Indonesia tapi ke seluruh dunia. Kalau beberapa bulan lalu sempat ramai meme tentang perbedaan lipstik 50.000 dan 500.000, mungkin saya boleh bilang kalau Mineral Botanica ini lipstik harga 50.000 dengan kualitas lipstik 500.000. HAHAHA saya tidak bicara dan tidak berkomentar tentang merek dan betapa prestigiusnya membeli lipstik impor dengan harga selangit. Bagi saya pribadi sih, lebih membanggakan lho memakai produk lokal dengan harga 50.000 🙂

 

Jadi, masih malu pake lipstik gocap bikinan anak negeri? 

 

PS : yang tertarik buat dapatkan produk lokal Mineral Botanica ini dibawah 50k, bisa add line: anggitaawn untuk info lebih lanjut 🙂

Kosmetik Lokal? Kenapa Enggak!

IMG-20160214-WA0020

Produk Kosmetik Lokal yang saya gunakan sehari-hari 🙂 Capture by @ranchabel

 

 

Peribahasa gajah di pelupuk mata tak terlihat, semut di seberang lautan terlihat cukup tepat untuk menggambarkan kondisi kosmetik dalam negeri sekarang ini. Mungkin hanya sepersekian penduduk Indonesia (terkhusus perempuan) yang menggunakan kosmetik dalam negeri. Selain itu juga kebanyakan pasti berumur paruh baya dan berasal dari kelas sosial menengah kebawah.  Produk kosmetik dalam negeri seringkali dianggap murahan, kalah dengan produk kosmetik Amerika, Eropa ataupun Korea. Padahal sesungguhnya, banyak sekali produk kecantikan hasil karya anak bangsa yang berkualitas. Banyak dari kita, perempuan-perempuan Indonesia yang masih terjebak dalam kesadaran palsu tentang produk luar negeri jauh lebih bagus dibandingkan produk dalam negeri. Kebanggaan dan prestige yang ditimbulkan dengan menggunakan kosmetik mahal dari luar negeri semakin melanggengkan dan membuat kosmetik lokal semakin dianggap sebelah mata.  Kenyataan….. Coba saja sendiri. hehehe

Sebenarnya, saya pribadi juga baru tertarik dengan berbagai kosmetik lokal dalam beberapa bulan terakhir. Jujur saja, sebelumnya saya pemakai berbagai macam kosmetik mulai dari Amerika, Eropa hingga Korea dan begitu minim pengetahuan tentang produk dalam negeri. Semua berawal dari percakapan tentang lipstik matte dalam negeri yang sedang naik daun hingga menjadi barang langka di Jakarta dan sekitarnya. Saya penasaran dan membeli produk tersebut yang di Solo (tempat saya tinggal) kebetulan stok melimpah ditambah diskon dari toko kosmetik. Sungguh tidak percaya saya bahwa lipstik matte lokal ini begitu nyaman digunakan bahkan menurut saya 100x lebih nyaman dibandingkan lipstik matte merek luar yang terkenal itu (walau teman saya mengatakan rasanya seperti memakai krayon).

Semenjak saat itu, saya mulai tertarik dengan berbagai merek kosmetik lokal yang ada. secara umum, ada beberapa alasan penting produk kosmetik dalam negeri lebih baik. Pertama, alasan ekonomi. Sebagai perempuan, saya sungguh paham bahwa harga barang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan untuk membeli sebuah barang. Namun, terkadang perempuan juga menjadi makhluk paling irasional sedunia ketika sudah menginginkan sebuah prosuk, entah itu penting atau tidak, benar-benar butuh atau tidak. Begitu juga dalam membeli kosmetik. Jelas, untuk beberapa merek kosmetik lokal memiliki harga yang benar-benar aman di kantong dibandingkan membeli barang dari luar. Contohnya saja lipstik dengan merek Purbasari yang bisa dibeli dengan harga sekitar 30.000 dibandingkan dengan misalnya lipstik Colourpop dengan harga 150.000. Beli satu lipstik import bisa dapet 5 produk lokal. Sayangnya, harga murah produk lokal ini malah sering kali membuat ragu tentang kualitas dan kandungan yang ada. seperti yang sebelumnya sempat disinggung, harga murah identik dengan murahan. Teman saya pernah bercerita membeli sebuah produk pelembab lokal dengan harga sekitar 10.000 dan dia bertanya pada saya “aman gak ya? Masa harganya 10.000 doang kan takut ya.” Atau kakak saya yang shock ketika saya membeli make up remover lokal dan harganya dibawah 20.000 “seriusan itu cuma segitu? Jangan-jangan isinya air”. Mengherankan  memang  perempuan Indonesia ini, ada barang bagus dengan harga murah malah memilih barang mahal yang mungkin dari segi kualitas sama saja atau bahkan bisa jadi lebih buruk. Katanya gak punya uang, tapi tetep aja PO lipstik mahal dari negeri seberang yang harganya kalo dibeliin lipstik lokal udah bisa beli selusin.  Begitulah kurang lebih potretnya.

Alasan selanjutnya adalah kualitas. Sebenarnya mengenai kualitas ini sungguh sangat relatif dan mungkin sangat bisa untuk diperdebatkan hahaha. Terlebih bagi pemuja make up import yang super mahal. Saya juga bukan ahli kecantikan atau seseorang yang paham tentang kesehatan kulit dan sebagainya. Tapi hanya saya konsumen dan pemakai. Menurut saya, keunggulan utama produk lokal yang dijual di pasaran Indonesia ini telah disesuaikan dengan kondisi negeri ini yang tropis juga telah berdasarkan riset tentang kebanyakan warna dan jenis kulit penduduknya. Seperti besarnya SPF yang harusnya disesuaikan dengan jenis kulit orang indonesia (dokter kulit saya bilang demikian, jadi bukan berdasarkan kita tinggal di negara tropis) atau juga berbagai warna lipstik yang disesuaikan dengan warna kulit sawo matang atau kuning langsat khas perempuan Indonesia. Seringkali, saat membeli lipstik import banyak warna lipstik yang bagus namun setelah digunakan warnanya tidak sesuai. Atau berbagai kosmetik yang begitu cocok digunakan artis-artis cantik Korea namun menjadi semacam badut setelah digunakan. Hal-hal seperti ini akan jarang dialami dengan membeli produk lokal. Mengenai kualitas, saya telah merasakan bagaimana produk lokal memang benar-benar sesuai. Bibir saya yang rewel dan cepat kering apabila menggunakan lipstik hits import, bisa menerima dengan baik lipstik lokal tanpa kering. Terbukti kan?

Yang pasti juga bisa dilihat kandungan dalam kosmetiknya. Beberapa kosmetik Indonesia sudah paraben free dan alcohol free (tanpa/dengan label Halal) lho. Jadi akan aman bagi kesehatan tentunya.

Kalau masih ingat isu nilai tukar rupiah yang beberapa bulan yang lalu kian melemah (hingga saat ini), pasti juga ingat bahwa pemerintah menyarankan masyarakat Indonesia untuk mengurangi import barang-barang. Membeli produk lokal juga menjadi langkah konkret sebagai warga negara. Kecintaan pada negeri ini juga bisa ditunjukkan dengan memilih produk kosmetik lokal. Saya sudah melakukannya dan saya semakin cinta pada (produk-produk) Indonesia

Masih belum percaya kualitas produk lokal? Yuk cobain

 

Learning from Failure

Failed

Last Thusday, became one of the hardest day in my life. Sounds like so dramatic but for me that day really one of the worst day over 23 years. I and my sister failed. I failed to get scholarship and my sister failed on her in vitro fertility program. It was so hard because i couldn’t support my sister well and vice versa. We were crying together and felt sad at that time. She won’t to have consultation to her doctor and i won’t to go to my ielts preparation class. But finally, before going to my ielts class,  i companny her to go to hospital and doctor also feel sorry with this failure. He said to my sister that her condition is good but he don’t know exaclty the factor of failure. He also gave my sister advice to go back again 3 month later if she want it. It was not easy, my sister really want to have baby and i know she well, she always did every doctor said, always sholat in early time, did sholat sunnah like dhuha and tahajud, read quran and another activites to get closer to Allah. Maybe, i don’t give mental support as well as i can during her program. My friend, Yudha, advised me to give my best support to her cause she really need that besides her husband support. Sorry mumik if i can’t be your supportive sister 😦

Thanks to all my best supporter ever, Mama who sent me video which make me crying all day long and remain me about the super power Allah who always give the best in the right time, or Papa who just being Papa with your disappointments. My best friend Yudha, Cp, Cika, Cici, Bara, Iki, Tara, Farrazu, Aini,  Mbak Dinda, Mbak Tanty also Rizki who bring back my mood and make me laugh again with his not funny jokes actually.

I know every thing happens for a reason, Maybe Allah really loves me so much and want me to get more closer and closer to him. Allah want to see my consistency of my hijj. Yes, started before Ramadhan and in early of my 23 age, i decided to hijj. Going back to my lovely town, Solo and wearing skirt instead of pants and always try to use Hijab Syari. It’s not easy actually but its the part to be better person. My friend also told me that my failure in this scholarship is the sign for me to study abroad as i dream it. Allah still wait to make my dream to study in University of Amsterdam come true until the right time.

But, life keeps and turning 🙂

Jangan Diskon Mimpimu

Seorang kawan pernah berpesan “jangan diskon mimpi-mimpimu” namun sudah sekian banyak mimpi yang satu per satu mulai ku diskon bahkan hingga 100%

Aku pernah bermimpi menjadi pengajar di belahan negeriku yang masih membutuhkan guru-guru, namun sang pengatur hidupku berkata “ngapain sih, buang-buang waktu, semakin lama umur itu bertambah, keburu tua, itu hanya projek Anis Baswedan biar jadi mentri bla bla bala”. Oke mission failed.

Kini, ketika tinggal beberapa langkah menuju mimpiku menuntut ilmu di negeri kincir angin meskipun jalannya tak semulus yang dibayangkan, kembali lagi “keburu tua mundur terus, kalo sekolah di sini tahun depan juga sudah lulus, bla bla bla”

Aku sendiri tau untuk mimpiku itu tak mudah diwujudkan dan aku sudah pernah hampir menyerah untuk itu. Tapi, untuk mimpi yang satu ini aku tak boleh lagi mendiskon, ini cobaannya ini tantangannya

Bismillah

“.. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain)…” (QS 94:6-7)

 

curahan hati di pagi buta

sudah lebih dari sebulan aku menjalani kehidupan sebagai pengangguran yang benar-benar menghabiskan hari dengan bangun siang, cek semua sosial media yang ku punya, membalas segala macam chat, menghidupkan televisi, mencari makan atau memesan makan, guling-guling di nyamannya kasur kosan, tidur siang sore bahkan hingga malam, sesekali bermain bersama teman dan begitu saja setiap harinya.

setelah salah satu hari yang begitu menyenangkan dalam hidupku itu, ya hari wisudaku dimana aku tau bahwa tak hanya aku yang bahagia namun aku bisa melihat wajah betapa bahagianya papaku di hari itu, demi senyuman bahagia papa itulah aku rela dan ikhlas bersusah-susah menggadaikan berbagai macam pilihan beberapa bulan terakhirku menjadi mahasiswa, menjalani masa-masa padat di BEM sebagai BPH Inti dan menyelesaikan skripsi. mungkin seumur hidupku baru sekali itu aku melihat betapa bahagianya papa dan betapa bangganya papa padaku. Alhamdulillah.

dalam beberapa bulan terakhir masih berstatus mahasiswa, aku tak banyak berfikir tentang apa yang akan ku lakukan setelah lulus, karena yang ada dalam pikiranku sejujurnya hanyalah bagaimana bisa menyelesaikan skripsi dan lulus semester 7 dan bem beres dengan menyenangkan. bahkan pembimbingku pun juga merasa bahwa “di skripsi kamu ini tuh kerasa banget git kamu udah kehabisan energi, energimu sudah habis buat bemmu itu”. ah, benar sekali. jangankan berfikir masa depan, bagiku waktu skripsi selesai juga sudah syukur alhamdulillah. namun ini yang menjadi kesalahan besar dan fatal yang pernah ku buat.

baru kali ini aku merasa aku begitu bodoh, berfikir dengan sangat cupet dan pendek, jujur saja, biasanya aku sudah berfikir at least next step dari apa yang ku jalani. baru setelah sidang aku mulai berfikir apa yang akan ku lakukan ke depannya. dalam hati yang paling dalam waktu itu aku berniat ingin mengabdikan diri untuk menjadi pengajar muda indonesia mengajar angkatan terakhir, namun apa boleh dikata kalau memang benar janji Allah bahwa Ridho Nya berada pada Ridho orang tua, papa tidak mengizinkanku dengan berbagai macam alasan yang cukup rasional ala kapitalis. kegagalan itu membawa pada kebingungan lainnya. selain menjadi pengajar muda, keinginan terdalamku adalah back to campus.

aku rindu belajar, membaca buku, berdiskusi, tenggelam dalam paper dan sebagainya. aku ingin melanjutkan sekolah. dan papa menyetujuinya dengan senang hati, namun karena mimpi besarku adalah kembali ke kampung halaman, menjadi dosen di rumahku (dan kalau memiliki suami yang menginginkan membangun rumah tangga tak di Jakarta (re:Solo dan sekitarnya). aku tak ingin kembali hanya dengan kemampuan dan pengalaman yang seperti ini saja. papa menawarkan melanjutkan kuliah tetap di UI atau menawarkan di UGM. dengan tegas aku menjawab, “aku pengen s2 di luar pa, pengen di Belanda” papaku awalnya menjawab dan meremehkanku seperti biasa,ngapain sih kuliah ke tempat penjajah, emang kamu bisa bahasa belanda, bla bla bla. hahaha, namun beberapa saat kemudian, ketika beliau berkonsultasi pada salah satu kenalan Profesor di UNS dan menceritakan bahwa putrinya ingin kuliah lagi di Belanda langsung didukungnya. sejak saat itu, niatan untuk lanjut s2 di Belanda direstui dan bahkan segitu niatnya sampai dibolehin les ielts yang mahal (emang butuh sih sebenernya).

untuk dapat sekolah lagi butuh proses panjang dan berliku, belum lagi mencari beasiswa karena ku tak sanggup apabila melihat biaya pendidikan, hidup dan segala macamnya yang subhanallah mahalnya, apalagi buat aku yang anak kampung ini, belum lagi ijazah sarjana yang hingga saat ini belum juga selesai. sambil menunggu proses hendak sekolah ini, maka untuk menyambung kehidupan, aku harus gawe dan menjadi buruh-buruh kapitalis.

bermodalnya CV yang isinya hanya kepanitiaan bem dan modal lulusan UI,sudah berpuluh-puluh CV dikirim. beberapa memanggil untuk tes psikologi, tes tertulis atau bahkan hanya interview saja. ada yang hanya disuruh kenalan, ada yang ditanyain ini itu, ada yang diskusi panjang lebar dan banyak lainnya deh. saat tes, sering kali dan kebanyakan mulai ngerasain atmosfer kerja. kaya enak atau engga, orangnya gimana. seringnya sih gak suka aja, hahaha. dan benar, kalau aku sendiri kurang srek pasti hasilnya tidak atau penolakan. untung anaknya udah sering dan kebal aja sama namanya penolakan jadi ya selow aja ga diterima kerja. tapi entah kenapa, kebanyakan yang nolak aku tuh seringkali di kantor itu banyak yang pertentangan sama idealisme aku. kaya dalam hati gak suka kalo punya klien rokok atau minuman keras, di kantornya ada anjing (kalo di Islam, bangunan yang ada anjingnya itu malaikat gak akan mau datang), ada botol-botol minuman keras, kantornya nun jauh disana, dan lain sebagainya.

aku sih mikirnya kalo Allah beneran masih ngejaga aku lho, ngejaga idealisme aku, ngejaga dari hal-hal yang gak sesuai. karena sebenernya tiap mau interview, selalu aku sms mama papa buat minta doain sama aku berdoa kalo emang tempat terbaik buatku, maka lancarkan kalo engga tunjukan yang terbaik. emang sih butuh waktu yang lama, aku juga ga asal sebar cv sebenarnya karna aku juga gak mau yang mengikat lama, kan fokusnya tetep sekolah,wkwkwk

stress sih udah mayan, apalagi kalo ke kampus atau ketemu orang yang udah tau kalo aku udah lulus, atau kalo tiap hari ditanyaain mama papa, pusing rasanya. tapi, sebenarnya waktu luang ini aku bisa banget manfaatin buat selesaikan persiapan mau kuliah macem nyicil lengkapi requirement buat daftar sekolah dan belajar ielts tentunya.

Allah sedang mempersiapkan sebuah rencana yang super indah yang mungkin aku gak akan kepikiran sama rencana indah Allah itu. aku cuma bisa nurut apa kata mama papa buat banyak sholat malam dan sunah, puasa senin kamis, pasrah gak usah mikir banget nanti sakit, hahaha. bener sih jadi sakit beneran.

Semoga setelah ini akan ada cerita indah yang memang sudah dipersiapkan Allah untukku seperti janjinya ya. Aku percaya kok sama janji Allah di Q.S. Al Insyirah ini dan selalu jadi penyemangat aku selama ini :))

images